Hari ini adalah hari
pertamaku di sekolah Hogwarts High School, London. Aku sangat
merindukan teman-teman lamaku di Paris. Tapi orang-orang di sini juga
terlihat menyenangkan. Banyak yang membantuku mengenal tempat ini. Dan
aku bertemu seorang lelaki di sini. Draco Malfoy. Dia sangat tampan dan
menyenangkan. Rambut pirang platina serta mata kelabunya yang tajam
semakin menambah ketampanannya.
Di hari pertama, Draco menemaniku
melihat-lihat sekolah baruku. Dan mengantarkanku ke kelasku. Namun
setelah hari itu, ia tidak pernah masuk selama seminggu. Ketika ia
kembali masuk ke sekolah, ia langsung menghampiriku dan menemaniku
berbincang-bincang. Setelah seminggu kami menghabiskan waktu bersama,
Draco mengajakku pergi keluar. Hanya berdua. Mungkinkah ini―kencan?
Kencan
kami sangat menyenangkan dan kurasa semuanya akan baik-baik saja bagi
kami. Setiap hari ia selalu menghampiriku di kelas selama
berbulan-bulan lamanya. Kami lebih sering menghabiskan waktu bersama,
bahkan kami pergi bersama lebih dari dua kali dalam seminggu.
Sudah
dua tahun kami bersama setelah hari pertama aku melihatnya dan
hubungan kami tidak juga mengalami perkembangan. Kami masih sering
berbincang dan sesekali pergi bersama. Namun hanya sebatas itu. Tidak
ada yang spesial. Tunggu! Apa aku mengharapkan hubungan yang spesial
dengannya? Jujur, ya. Semakin lama dekat dengannya, semakin sulit
menyangkal bahwa aku jatuh cinta padanya entah sejak kapan. Setiap kali
kami pergi bersama, aku selalu berharap ia mengatakan sesuatu. Tapi
sepertinya aku hanya dapat berharap.
"Hei, Hermione, tebak apa yang aku bawa!" ujarnya saat ia menemuiku dengan tangan di belakang tubuhnya menyembunyikan sesuatu.
Aku
menggeleng tanda menyerah setelah beberapa saat menerka dengan jawaban
yang salah. Lalu ia menyeringai dan menunjukkan dua buah tiket
pertandingan tennis dari tim kesukaan kami.
"Apa itu tiket
sungguhan?" tanyaku tidak percaya, dan ia tersenyum menganggukkan
kepalanya. "Astaga, Draco. Tiket The Lion? Kau serius?"
"Apa tiket
ini terlihat palsu? Tentu saja aku serius dengan ini, Hermione. Kau
senang?" katanya dengan seringai yang masih tertempel di wajahnya.
"Tentu
saja! Aku sangat mengharapkan dapat menonton permainan mereka secara
langsung." Jawabku bersemangat sambil tersenyum lebar. Sungguh, aku
tidak tahu bahwa Draco masih ingat ketika aku mengatakan aku sangat
menyukai The Lion. Dan ya, perasaan aneh ini semakin menjadi-jadi.
Kami
pun pergi menonton pertandingan tennis tersebut bersama. Setelah
pertandingan berakhir, Draco mengajakku ke suatu tempat yang belum
pernah kukunjungi sebelumnya.
"Draco, apa yang akan kita lakukan di tempat seperti ini? Tempat ini sangat… sepi." Tanyaku yang mulai ketakutan.
"Hermione. aku… aku mencintaimu, Hermione." ujarnya seraya menatap mataku dalam-dalam.
"A-aku juga mencintaimu. Tapi kenapa—"
"Kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu barusan?" ucapnya sebelum aku sempat melanjutkan ucapanku sebelumnya.
"Ya,
aku bersungguh-sungguh." Ucapku akhirnya setelah beberapa lama terdiam
karena sibuk mengendalikan perasaan bahagia yang meluap-luap dalam
diriku. Dan aku yakin pipiku sudah semerah tomat saat ini.
"Kalau begitu, cium aku."
"A-apa?" Draco tidak mengatakan apapun lagi dan menungguku. Jujur aku menginginkannya, tapi aku terlalu gugup untuk memulainya.
Setelah
lama kami terdiam, aku pun mulai mendekatkan diriku padanya hingga
akhirnya bibir lembutnya menyentuh bibirku. Aku merasakan sensasi aneh
saat bibir kami bertemu. Seperti ada puluhan kupu-kupu beterbangan dalam
perutku. Dan itu merupakan ciuman pertamaku.
"Aku mencintaimu, Hermione." ujarnya setelah kami melepaskan bibir kami.
"Kau sudah mengatakan itu tadi, Draco." jawabku dengan wajah yang aku yakin masih memerah.
"Aku
tahu. Karena aku… benar-benar mencintaimu, Hermione." bisiknya dengan
perlahan sambil kembali mendekatkan jarak di antara kami dan kembali
bibir kami bertemu.
"Draco, apa ada yang ingin kau katakana lagi?"
tanyaku yang masih terengah-engah akibat ciuman yang memabukkan tadi.
Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi. Apa yang membuatnya
mengatakan itu semua. Sejak kapan ia memiliki perasaan yang sama
sepertiku?
Namun ia hanya menggelengkan kepalanya. Aku benar-benar
tidak mengerti. Yang aku tahu, mulai saat itu, aku berpikir bahwa
hidupku akan sempurna dengan adanya Draco di sisiku.
xxxxx
Tiga
minggu sudah sejak hari itu. Aku dan Draco semakin dekat. Aku sampai
berpikir bahwa kami adalah pasangan paling sempurna yang pernah ada. Aku
bermaksud menemuinya di ruang olah raga. Namun aku lihat Draco sedang
berbincang dengan teman-temannya, jadi aku menunggu di dekat pintu
ruang tersebut. Dari tempat ini, aku dapat mendengar perbincangan
mereka.
"Hei, mate, beritahu kami yang sebenarnya antara kau dengan gadis Granger itu." Aku dengar salah seorang temannya berbicara.
"Baiklah, aku berbohong pada Granger. Aku bilang padanya bahwa aku mencintainya tapi faktanya—"
Aku
tidak dapat menunggunya menyelesaikan ucapannya ketika aku mendengar
bahwa ia berbohong padaku. Aku berlari sekencang mungkin meninggalkan
ruang olah raga tersebut. Aku harus menjauh dari tempat itu. Aku merasa
hatiku hancur dan bahkan aku tidak tahu dimana kepingan-kepingan hati
itu berada. Bagaimana bisa Draco melakukan ini padaku? Dia mengatkan
bahwa ia mencintaiku dan aku mempercayainya. Dia mengatakan bahwa ia
ingin selalu bersamaku dan aku juga mempercayainya.
Aku tidak
ingat berada di mana sekarang, tapi aku tahu aku tidak pernah ingin
kembali ke kelas lagi, ia pasti berada di sana. Aku tidak yakin aku bisa
mengendalikan perasaanku di hadapannya. Tidak ada lagi seorangpun di
sampingku. Dan sekali lagi, air mata mengalir deras dari pelupuk mataku.
"Hermione!
apa yang kau lakukan di tempat dingin seperti ini? Kau bisa mem—" ujar
suara Draco yang tanpa kusadari telah berdiri di sampingku. Ia
berhenti ketika melihatku menangis. "Mione, apa yang terjadi? Apa yang
membuatmu menangis seperti ini?" lanjutnya, tangannya hendak menyentuh
wajahku.
Sontak aku menepis tangannya sebelum benar-benar
menyentuh wajahku. "Kau bisa menghentikan aktingmu sekarang juga,
Draco." ia hendak bicara tapi aku menyelanya, "kau tidak perlu
berbohong lagi padaku, Draco. jika kau tidak menyukaiku, yang perlu kau
lakukan hanyalah berkata tidak."
"Hermione, sungguh, aku tidak
mengerti apa yang kau bicarakan." Jawabnya, raut wajah bingung terlihat
jelas darinya. Untuk sesaat, aku sangat ingin mempercayai bahwa aku
salah mendengar waktu itu. Namun saat aku teringat ucapannya itu,
semakin aku tidak ingin percaya dengan apapun yang akan dikatakannya.
"Aku mencintaimu, jika itu yang ingin kau tahu. Aku telah
mengatakannya, kau tahu itu, Mione. Kau tahu aku mencintaimu."
Bagaimana
bisa ia berkata bohong di hadapanku langsung seperti ini? "Ya, kau
telah mengatakan hal itu, tapi kau tahu itu tidak benar."
"Apa yang kau maksud?"
Oh
Draco, kau tahu benar apa yang kumaksud. Kau telah berbohong dan
menghancurkan hatiku sekarang. Sungguh, aku hanya ingin kau pergi
sekarang. Aku tidak sanggup menatapmu lagi. Itu hanya akan membuatku
semakin terluka. Tentu saja aku tidak bisa mengatakan itu di hadapannya.
Aku terlalu pengecut. "Kau tahu draco, kau lelaki yang baik. Banyak
gadis yang telah menunggumu di luar sana. kenapa tidak kau temui saja
mereka?" hanya itu yang kukatakan padanya.
"Aku tidak mau. Karena sudah ada kau di sini. Aku tidak mau yang lain, Mione. Tolong." Ucapnya dengan lirih.
Mataku kembali memanas dan air mataku kembali jatuh. "Tolong, Draco, pergi."
"Mione, kimohon, jangan lakukan ini padaku." Pintanya, dan dapat kulihat air mata juga mengalir perlahan di wajah pucatnya.
Kau
menangis, Draco? kenapa kau menangis seperti itu? Kau membuat ini
semakin sulit. Beberapa menit yang lalu kau bercerita kepada
teman-temanmu bahwa kau membohongiku, dan sekarang kau menangis seolah
kau terlalu mencintaiku. Aku membalikkan tubuhku, tidak ingin aku
menatap matanya saat ini. "Aku melakukan ini demi kebaikan kita, Draco.
aku mencintaimu. Dan akan selalu mencintaimu. Tolong, tolong jangan
pernah lupakan apa yang telah kita lalui, Draco. kau telah membohongiku
dengan mudahnya, dan aku tidak bisa menerima hal itu."
Aku
melihat wajahnya sekali lagi, wajahnya semakin basah oleh air mata. Aku
tidak pernah melihatnya menangis sebelumnya. Draco adalah orang yang
tidak akan dengan mudahnya menunjukkan emosinya. Aku menarik napas
dalam-dalam, menguatkan hatiku, dan pergi meninggalkannya. Pergi untuk
memulai hidup baru yang ditemani kesepian.
xxxxx
Waktu
terasa sangat lambat tanpa adanya Draco yang menemaniku lagi. Dua
tahun sudah sejak kejadian hari itu. Dan di sinilah aku sekarang.
Sendiri di tengah hilir mudik pengunjung sebuah taman rekreasi. Aku
berjalan sambil sesekali melihat burung-burung merpati yang berkumpul
di sepanjang jalan. Dan aku melihatnya, tak jauh dari tempatku berdiri,
Draco Malfoy sedang memberi makan burung-burung merpati yang
mengerumuninya.
Tanpa sadar aku berhenti melangkah dan
mengamatinya. Ia masih sama seperti dulu, seperti Draco Malfoy yang
kukenal. Ketika ia mengangkat wajahnya, mata kami bertemu. Draco
tersenyum dan menghampiriku.
"Hai." Aku menyapanya lebih dulu.
"Hai." Balasnya.
"Bagaimana
kabarmu, Draco? Lama tidak bertemu." Aku tahu uacapanku terdengar
bodoh. Tentu saja kami sudah lama tidak bertemu. Dan aku yang memutuskan
hubungan kami sebelumnya.
"Uhm, aku—" belum sempat ia menjawabnya, seseorang memanggil namanya. "Err… Aku rasa aku harus pergi sekarang, Hermione."
"Oh, baiklah."
Singkat.
Sangat singkat. Dan sekarang ia telah pergi. Aku tidak percaya
bagaimana mungkin setelah sekian lama tidak bertemu, yang ia katakan
hanyalah 'Hai' dan setelah itu ia pamit pergi? Bahkan kami tidak berani
menatap mata satu sama lain saat bicara karena kami takut ingatan
meyakitkan itu terlintas lagi. Sudah dua tahun berlalu namun rasa sakit
itu masih bisa kurasakan, dan aku tidak pernah sekali pun berhenti
memikirkannya. Kadang aku berpikir bahwa hal terbodoh yang pernah
kulakukan adalah berpisah dengannya.
xxxxx
"Maaf,
Nona, aku tahu kau tidak bekerja di sini, namun apa kau tahu dimana
aku bisa menemukan obat-obatan di sini?" tanya seorang pemuda berambut
merah dengan senyum di wajahnya.
Ya, aku memang tahu semua yang
ada di toko ini karena sudah setahun belakangan ini aku menjadi
pelanggan toko ini. "Ya, tentu. Kau bisa menemukannya di lorong sebelah
sana." jawabku menunjuk lorong paling ujung di toko ini.
Dia memberikan senyumnya kembali, "Terima kasih."
Aku balas tersenyum padanya. "Ya, sama-sama. Tidak perlu sungkan."
"Uhm…
sebagai tanda terima kasih, maukah kau pergi bersamaku jika ada waktu?
Ya, semacam… kencan? Makan malam, atau menonton film?" tanya pemuda
itu dengan sedikit gugup. Kurasa sekarang wajahnya lebih merah daripada
rambutnya.
"Kencan? Aku tidak tahu—errr…"
"Ron." ujarnya memperkenalkan namanya.
"Ya,
Ron. Uhm, aku tidak tahu, Ron. mungkin kencan bukanlah ide yang
bagus." Jawabku. Kulihat raut wajahnya berubah sedih. "Jangan salah
paham, Ron. kau kelihatannya adalah lelaki yang baik. Aku hanya…
trauma. Aku telah menjalani hubungan dengan seorang lelaki dan itu
menyakitkan."
"Oh, maaf, err—"
"Hermione."
"Ya, maaf, Hermione. kapan itu terjadi?"
"Dua tahun yang lalu." jawabku. Pemuda bernama Ron itu menaikkan alisnya. "Aku tahu itu sudah lama terjadi, tapi…"
"Baiklah,
aku mengerti, Hermione. dia pasti sangat spesial bagimu, bukan? Aku
bisa mengerti bagaimana rasanya. Tapi jika kau terus menghabiskan
hidupmu dengan masa lalu, kau akan kehilangan kesempatan untuk
mendapatkan sesuatu yang luar biasa di masa depan." Ujarnya lalu pergi
ke kasir untuk membayar belanjaannya.
Ketika aku mendengarnya, aku
merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan ketika pertama kali
bertemu dengan Draco, hanya saja, kali ini lebih kuat. "Ucapanmu luar
biasa, Ron. Err… tentang kencan yang kau tawarkan, kurasa aku akan
menerimanya."
Ia tersenyum dan setelah itu ia mengantarku pulang ke rumah.
Sejak
hari itu, Ron sering mengunjungiku. Dan ajaibnya, sejak ada Ron, aku
tidak pernah memikirkan Draco lagi. Kami selalu pergi bersama setiap ada
waktu luang. Dan suatu hari, Ron melamarku di sebuah bukit yang
langitnya terdapat jutaan bintang. Ron memberiku dua buah replika
bintang, satu berukuran kecil, dan satunya berukuran besar.
"Hermione,
bersediakah kau menerimaku sebagai calon suamimu?" tanyanya waktu itu.
"Jika kau menerimaku, berikan bintang yang besar padaku, tapi jika kau
menolakku, berikan bintang yang kecil padaku."
Aku terdiam
sejenak. Aku mencintainya, dengan cara yang berbeda tentunya. Ron
satu-satunya lelaki yang dapat membuatku sembuh dari luka masa laluku
dengan Draco. bodoh jika aku menolak lelaki sehebat dan sebaik Ron. Maka
aku pun memberikan bintang yang berukuran besar kepadanya. "Aku
bersedia, Ron."
Mendengar itu, ron lantas menarikku ke dalam
pelukannya dan menciumku dengan lembut. Sebulan setelah itu kami pun
menikah. Hari itu adalah hari terbaik dalam hidupku. Ron yang mengenakan
tuxedo berwarna putih yang sangat kontras dengan warna rambutnya
menungguku di depan altar untuk mengucapkan janji suci sehidup semati
dalam ikatan cinta.
xxxxx
Hidup
memang seperti roda yang berputar. Manusia tidak bisa selamanya berada
dalam kebahagiaan. Dua tahun sudah pernikahanku dengan Ron, namun
Tuhan malah meranggut kebahagiaanku dengannya. Tanpa kuketahui, Ron
mengidap radang paru-paru akut.
Aku telah memohon pada Dokter
yang ada agar berusaha menyembuhkan Ron dari penyakitnya itu, namun
mereka mengatakan hanya keajaibanlah yang dapat menolongnya bertahan
hidup. Sekecil apapun keajaiban itu, aku akan menunggunya. Aku akan
melakukan apapun demi Ron.
"Ron, kumohon bertahanlah. Demi aku.
Demi kita. kumohon, Ron." Air mata tak henti-hentinya membasahi
wajahku. Aku merasakan perasaan takut yang memenuhi diriku. Tuhan
seharusnya mengambilku juga jika Ia ingin mengambil Ron. Aku tidak
ingin hidup tanpanya. Kami telah melewati banyak hal bersama. Ia adalah
lelaki terhebat yang pernah kutemui dan ia memperlakukanku dengan
sangat baik. "Kumohom, Ron, jangan lakukan ini padaku."
Ron
membuka matanya perlahan, mengerjapkannya beberapa kali, dan menoleh
kepadaku. "Mione. Aku mencintaimu, Hemione. Kau tahu seberapa besar aku
mencintaimu, bukan?" bisiknya dengan lemah. Aku hanya sanggup
menganggukkan kepalaku. Melihatnya seperti itu sungguh sangat
menyakitkan. Aku menggerakkan bibirku namun tak ada kata-kata yang
mampu keluar.
Itu adalah hal terakhir yang aku dengar darinya
sebelum ia pergi untuk selamanya. Terkadang aku berpikir Tuhan begitu
kejam kepadaku. Namun aku tahu Tuhan selalu punya maksud di balik
setiap kejadian. Melepaskan seseorang yang tak kau harapkan
kepergiannya memang selalu sulit. Aku telah mengetahui bahwa Ron bisa
pergi kapan saja, namun aku tidak pernah siap untuk melihatnya pergi.
Aku menangis sejadi-jadinya. Namun berapa banyak pun air mata yang
kukeluarkan, kesedihan ini tidak pernah berkurang sedikit pun.
Aku
mencoba untuk melepas kepergiannya dengan perasaan bahagia, namun itu
terlalu sulit. Berbulan-bulan lamanya aku masih terpuruk karena
kepergian suami yang sangat kucintai. Orang-orang berpikir aku jatuh ke
dalam depresi yang sangat dalam sehingga aku tidak bisa menjadi diriku
yang seperti dulu lagi. Ya, mungkin mereka benar. semuanya tidak akan
sama lagi sejak kau kehilangan seseorang yang amat sangat kau cintai.
xxxxx
Setahun
sudah sejak kematian Ron dan aku masih sering menangisinya seorang
diri. Sepulangnya dari tempat makam Ron, aku mengunjungi toko tempat
pertama kali aku dan Ron bertemu. Di tengah perjalanan aku mendenar
suara yang sangat kukenal memanggilku. Aku mempercepat langkahku,
berharap tidak akan bertemu dengannya. Namun tak lama kemudian orang itu
menepuk pundakku.
"Hermione? Kau Hermione?" tanyanya memastikan.
Aku pun membalikkan tubuhku agar bisa melihatnya. "Ternyata benar.
Sudah mendengar tentang suamimu, aku turut menyesal. Apa kau baik-baik
saja, Hermione?"
Sekali lagi, takdir mempermainkanku. Kenapa dia?
Kenapa Draco Malfoy yang hadir kembali? Oh, Draco, kau datang di waktu
dan keadaan yang salah. "Hai, Draco. Terima kasih. Aku baik-baik
saja." Sebisa mungkin aku mengendalikan perasaanku.
"Hermione,
aku tahu aku bukanlah orang yang ingin kau temui saat ini. Tapi, jika
ada yang bisa kulakukan untukmu, tolong katakanlah." Ujarnya
sungguh-sungguh.
"Tidak, Draco. aku sungguh baik-baik saja." Ya,
aku berbohong. Aku tidak baik-baik saja, terlebih lagi setelah
melihatnya sekarang ini.
Draco tersenyum dan perlahan memelukku
dengan lembut. Dan entah mengapa tubuhku tidak menolaknya. Aku pun
hanyut dalam pelukkan hangatnya. Rasanya masih sama seperti ketika kami
sering berbagi pelukkan sewaktu di masa sekolah dulu. Baru kusadari,
aku merindukan pelukkan ini. Aku merindukan Draco.
"Aku tahu kau
mungkin membenciku, tapi aku tidak peduli. Aku ada di sini bersamamu,
Hermione. Selalu. Kau tidak pernah benar-benar pergi dari pikiranku
sejak hari itu, hari dimana kau mengakhiri hubungan kita, dan aku
berdiam diri di bawah hujan selama sisa hari itu. Itu adalah hari
terburuk dalam hidupku." Ujarnya setelah melepaskan pelukkannya.
"Kau yang membuatnya seperti itu, Draco." aku membalikkan tubuhku, hendak melanjutkan perjalananku ke toko tersebut.
"Aku tahu aku yang membuatnya seperti itu. Aku meyesal. Sangat. Aku telah berubah, Hermione."
Aku
tetap melanjutkan perjalananku tanpa meoleh. Hati kecilku mengatakan
aku ingin tetap di sana, bersama Draco. Namun otakku menolaknya. Sekuat
mungkin aku menahan perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul. Perasaan
yang aneh namun terasa tidak asing bagiku. Aku pernah merasakannya
sebelum ini. Aku pernah merasakannya ketika pertama kali aku bertemu
Draco.
"Aku mencintaimu! Aku telah berkata bahwa aku akan selalu
mencintaimu. Kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku!"
teriaknya sehingga menarik perhatian orang-orang yang melewati kami.
Aku
berhenti. Kenapa percakapan ini jadi seperti ini? Ini tidak benar.
tidak sekarang. Aku baru saja kehilangan suamiku. Kenapa lelaki ini
harus datang kembali? Kenapa harus Draco?
"Draco! Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanyaku setelah menghampirinya kembali.
"Aku ingin kesempatan kedua."
"Apa
kau pikir kau bisa melakukannya?" aku berkata sedikit kasar. "Aku
telah kehilangan seseorang yang sangat berarti bagiku sebelum aku
kehilangan suamiku. Dan aku tidak siap untuk merasakan sakit lagi."
Sekali lagi, aku melangkah menjauhinya.
"Kumohon, Mione!" Teriaknya lagi.
Aku menoleh dan mendapati air mata di ujung pelupuk matanya, namun ia tidak membiarkannya jatuh.
"Satu saja kesempatan. Jika kali ini aku mengkhianatinya, aku akan pergi dari hidupmu selamanya. Kumohon."
"Aku
tidak ingin tersakiti lagi, Draco." air mata jatuh begitu saja dari
pelupuk mataku, aku tidak sanggup membendungnya lebih lama lagi.
"Aku
janji tidak akan menyakitimu, Hermione. aku tidak akan meninggalkanmu
dan membohongimu lagi jika kau memberiku kesempatan." Air mata yang
sejak tadi ditahannya, sekarang jatuh sudah.
Aku terdiam. Air mata
yang semakin deras jatuh begitu saja tanpa bisa kucegah lagi. Aku
sangat ingin mempercayainya saat ini. Namun aku tidak siap menerima yang
lebih buruk dari ini jika ia menyakitiku lagi.
"Ayolah, pemuda
itu telah memohon padamu. Berilah dia satu kesempatan atau kau mungkin
akan kehilangan sesuatu yang luar biasa." kata seorang pejalan kaki yang
berada di dekat kami.
"Baiklah." Ujarku akhirnya, dan bisa
kulihat wajah Draco sedikit berbinar mendengarnya. Ia menarikku kedlam
pelukannya dan membawaku melayang-layang di udara. Dia memelukku begitu
erat hingga rasanya sulit untuk bernapas.
"Aku mencintaimu." Dia
menurunkanku dan meniumku dengan lembut. detik itu juga aku menyadari
aku tidak pernah benar-benar berhenti mencintai pemuda ini, aku tidak
pernah berhenti mencintai cinta pertamaku.
xxxxx
10 tahun kemudian
"Rose,
Scorpie, waktunya makan malam! Ayo kemari!" aku berteriak kepada dua
anak yang sedang bermain di ruang tengah rumah kami. Aku selalu menyukai
saat makan malam. Karena saat makan malam semua anggota keluargaku
akan berkumpul dan berbincang satu sama lain. Aku mencintai keluargaku.
Aku mencintai Draco dan kedua buah hati kami. Mereka sangat cerdas.
Mereka mendapatkannya dari Draco. draco selalu menjadi pemuda yang
cerdas.
"Baiklah, siapa yang ingin brokoli?" tanyanya kepada Rose dan Scorpius.
"Eww!" jawab mereka serempak. Mereka benci brokolo. Lagipula tidak ada yang kecil yang suka dengan sayuran itu.
Malam
ini, aku dan Draco berbaring di atas ranjang kami. Kami berbincang
tentang segala yang terjadi di masa lalu kami. Butuh waktu lama bagi
kami untuk melepaskan segala emosi dan kesakitan yang pernah kami
rasakan. Kami tidak pernah membicarakan tentang Ron. Draco telah
mengerti betul bagaimana perasaanku terhadap Ron. Aku merindukannya. Aku
masih belum dapat percaya bahwa Ron telah benar-benar pergi. Tapi aku
bahagia bersama Draco, dan aku yakin Ron pasti akan bahagia juga
untukku. Pada akhirnya, aku mendapatkan akhir yang bahagia bersama
Draco.
"Sudah malam, sebaiknya kau tidur, Love. Selamat malam."
"Selamat malam, Draco." draco mengecup keningku dan aku pun terlelap dalam pelukkannya. Aku yakin akan mimpi indah malam ini.
-F I N-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar