Kamis, 21 Juni 2012

Hermione's Day

Draco Malfoy – Hermione Grangrer

Drama - Romance

 Disclaimer : J.K Rowling.

 

Summary : Draco berlutut di hadapan Hermione dan menatapnya tepat di kedua mata hazel yang indah itu, "Hermione Jane Granger, est –ce que tu c'est marier?" –Short Fiction for valentine day-

 

Notredame cathedral, Paris, France. February 14th 2006

 

Aku melangkahkan kakiku seirama dengan mars pernikahan yang dikumandangkan piano gereja, kedua kaki cantik milikku ku langkahkan dengan percaya diri dan tangguh seakan tidak akan hancur diterjang ombak. Senyum terulas indah di wajahku megambarkan kebahagiaan yang aku rasakan saat ini, berjalan di altar menuju kekasih yang sebentar lagi akan menjadi suamiku. Menemui seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku selamanya.

 

Kepalaku sedikit tertunduk malu mengingat aku belum cukup bersolek pagi ini - menurut pemikiranku tentu saja- seingatku, 30 menit yang lalu aku baru saja selesai berdandan dan mematut wajah cantikku yang dibingkai dengan rambut berwarna kecokelatan yang digelung 'french twist' dan menggunakan tiara manis milik Bibi Narcissa –atau 'calon' ibu mertuaku-. Di wajahku sendiri terpulas make up manis hasil karya Ginny dan Luna, sahabat baikku tentu saja setelah Ron dan Harry, tapi apa aku mungkin mempercayakan wajahku pada mereka? Tentu saja tidak!- sedangkan di badanku melekat gaun backless buatan Madam Malkin yang indah sekali, berhiaskan manik berukir dari dadaku sampai pinggang bagian belakang dimana ekor gaun ku yang mengembang panjang menempel sempurna. Warna cokelat pastel berpadu dengan hijau zamrud pun sangat manis di mataku, sungguh hari terbaik dalam hidupku.

 

Senyum kembali terukir ketika aku telah sampai di tengah perjalanan menuju altar dimana kekasihku telah berdiri tinggi menjulang di depan altar yang aku yakin sekali sedang menahan dirinya untuk berbalik dan segera berlari mengejarku. Kekasihku, mempelai pria nya, berdiri gagah dengan menggunakan jas berwarna putih yang semakin membuatnya bercahaya dan rambut pirangnya yang telah dipotong rapi membuatku tak tahan untuk tak menyentuhnya, dan demi merlin! Dari kejauhan pun aku dapat mencium aroma tubuhnya yang selalu ada di memoriku, mint segar.

Mencoba untuk tak terlihat gugup, aku pun bermain main dengan pecahan - pecahan kenangan selama kita berdua berpacaran dulu, ketika Draco melamarku.

 

-London, January 24th 2005-

 

Hermione mempercepat langkahnya, setengah tak ingin mati membeku dan setengah ingin segera menemui Draco Malfoy, kekasihnya, yang seharusnya sudah akan ditemuinya sedari 30 menit yang lalu apabila kereta yang ditumpanginya tidak terjebak di tengah - tengah perjalanan.

 

Udara dingin yang menggigit seakan tak menghalangi derap langkah Hermione untuk segera memasuki tempat yang cukup familier dengannya, Apartemen Draco. Tanpa berbasa - basi lagi Hermione segera memasuki lift yang akan membawanya menuju lantai 3, tempat dimana kamar Draco berada. Dan dalam hitungan detik dirinya telah sampai di depan pintu kamar Draco, sedikit gugup dan memastikan peampilannya cukup rapi, dengan dorongan singkat dirinya telah memasuki kamar Draco.

 

Belum mencopot matelnya, Hermione sudah berkeluh kesah, "sorry, I'm late. Aku terjebak ditengah perjalanan, kau tahu lah, London," keluh Hermione kepada sosok tampan di hadapannya.

Draco berbalik badan dan meninggalkan kopernya yang setengah terisi untuk menatap kekasihnya yang terkadang bersikap kekanak - kanakan ini, "shh.. sudahlah sayang. Kau tidak terlalu terlambat, aku bahkan belum mengeluarkan pizza dan winenya. Tenanglah, Mione, terlambat 30 menit tidak akan membuatku berhenti mencintaimu." Goda Draco sambil terkekeh.

 

Hermione tersenyum singkat sebelum mengecup bibir kekasihnya dan melangkah menuju pantry kecil di sudut ruangan.

"Well, kalau begitu mari kita mulai makan malamnya," ucap Hermione yang kelaparan seraya mengeluarkan pizza dari microwave dan membawa serta dua gelas tinggi dengan sebotol wine dari lemari bawah.

Senyum Draco merekah ketika Hermione sudah duduk di hadapannya, kekasihnya ini selalu bisa membuatnya tertawa, baik hari itu merupakan hari termurung sekalipun. Kekasihnya selalu bisa membuatnya kembali ceria, dan karena itulah ia harap yang akan menjadi keputusannya kali ini tidak akan salah.

 

"Hm…. Honey, aku berencana untuk pergi dalam beberapa hari ini, sekitar 2 atau 3 minggu, aku harap kau mau mengerti," ucap Draco pelan, takut membuat gadisnya meledak marah.

Hermione mendongakkan kepalanya, bibirnya ia kerucutkan sedikit, "haruskah, Dray? Bukannya kau baru saja pulang dari Jerman kemarin lusa, dan kemarin dulu kau baru saja berjanji untuk tinggal sedikit lebih lama, aku masih merindukanmu, Dray," ungkap Hermione yang tentu saja tak ingin ditinggalkan Draco.

 

Draco menghela nafasnya berat, ia selalu benci saat - saat ini, dimana ia harus meyakinkan Hermione bahwa ia akan kembali dan ia pasti akan tetap mencintai Hermione.

"Tentu saja aku akan tinggal, Mione. Tapi ijinkan aku sekali ini saja, lagipula kau akan menemaniku, bukan?" Goda Draco.

Hermione mengerutkan dahinya, "menemanimu? Apa maksudmu, Draco?"

Draco tersenyum penuh rahasia, "coba kau lihat apa yang ada di dalam tas mu" ucapnya.

Hermione semakin penasaran dan segera merogoh setiap kantong yang ada di tasnya sebelum akhirnya terpekik senang, "Paris, Draco? Kau mengajakku kesana? Oh Draco…. Ini lebih dari sekedar hadiah, apa yang bisa aku berikan padamu sebagai gantinya?"

Draco tersenyum senang, "kau pasti tahu ketika kita sudah sampai disana" ucapnya disertai seringaian lebar.

 

-Paris, January 13th 2005

 

Paris, seperti yang selalu dibayangkan adalah tempat menarik untuk Draco dan Hermione, ia sendiri tak dapat menahan hasratnya untuk segera menarik Draco ke gereja terdekat dan memaksanya segera menikahinya disini, hidup bersama dalam kurun waktu hampir 10 hari adalah cobaan yang besar kau tahu? Mereka sendiri tak bisa melewatkan pagi siang dan malam mereka tanpa berbagi ciuman yang hangat, di sisi lain karena mereka penuh cinta dan hal ini sangat jarang untuk mereka lakukan mengingat pekerjaan Draco sebagai diplomat yang pastinya sering kali berurusan dengan pergi-lama-jangan-tanya-kapan-aku-akan-kembali, namun di sisi lain tentu saja ia bersyukur, bagaimana tidak? Apabila Draco bukan seorang diplomat yang sering berpergian ke luar negeri, tentu saja mereka tidak akan semudah ini menemukan tempat romantic untuk menghabiskan 2 hari terakhir mereka di Perancis seperti saat ini.

 

"Bon appétit, monsieur." Ucap seorang pelayan berambut emas seraya menuangkan wine di kedua gelas mereka.

Setelah wine dituangkan, pelayan tersebut mohon diri dan tak tampak lagi di sekitar mereka, yang berarti ini adalah 'kesempatan' untuk Draco.

Draco menggenggam tangan Hermione yang bebas dan tersenyum tulus pada kekasihnya ini, "Mon Cherrie, aku telah memikirkan semua ini sejak kita masih berada di London, dan aku telah memutar otakku untuk menemukan saat yang tepat, seperti yang kau tahu 5 menit lagi telah menunjukkan tanggal 14 februari, hari valentine. Dan aku mau dirimu mengetahui betapa besar rasa cintaku padamu," ungkap Draco penuh kesungguhan.

 

Tak menunggu Hermione untuk berkata - kata, Draco berlutut di hadapan Hermione dan menatapnya tepat di kedua mata hazel yang indah itu, "Hermione Jane Granger, est –ce que tu c'est marier?"

Hermione tak dapat berkata kata, yang bisa ia lakukan hanyalah membelakak tajam dan mendekap mulutnya yang terbuka lebar, melihat itu Draco buru - buru menambahkan.

"Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, Mione. Kita bisa mempunyai banyak anak, berapa yang kau mau? Lima? Atau malah sepuluh? Aku memiliki cukup uang untuk membesarkan keluarga besar layaknya keluarga Weasley, apapun akan kulakukan demi dirimu, Mione," ungkapnya gugup.

 

Setelah sosok di hadapannya mulai tenang, giliran Hermione yang menenangkan diri. Dengan nafas putus - putus, akhirnya Hermione menerima uluran tangan Draco yang sedari tadi berlutut di lantai batu demi sebuah kata 'ya' singkat darinya, dan ia dengan sepenuh hati menyetujui ajakan Draco, "bagaimana aku bisa menolak untuk menikahimu, Draco? Tentu saja aku mau!" Seru Hermione sebelum mereka saling menghambur dalam pelukan penuh cinta.

 

Notredame cathedral, Paris, France. February 14th 2006

 

Mars pernikahan berakhir manis dimana aku berhenti tepat di depan altar, sosok tampan disampingku tersenyum manis –tentu saja ia menahan dirinya untuk berlari ke arahku- senyumnya seakan tak mau pudar dari wajahnya, bagian ekor dari gaunku telah mengembang cantik di sekitar mereka, dan tentu saja terima kasih Tuhan rambut dan dandannya tidak mengalami perubahan apapun, sejauh ini ia tetap cantik.

Pendeta mengangkat tangan kanannya, meminta seluruh pengunjung duduk kembali, ia tersenyum pada Hermione dan Draco sebelum mengawali doa, setelah prosesi doa dan pemberkatan, ia menuntun kedua mempelai untuk mengucap janji pernikahan.

 

Draco memandang Hermione tepat pada mata hazelnya sebelum ia mengucap janji pernikahan, "Saya Draco Lucius Malfoy dengan ini menyatakan diri bersedia untuk menikahi Hermione Jane Granger dengan saksi seluruh hadirin, pendeta, dan Tuhan beserta malaikatnya dan saya bersedia hidup bersamanya seumur hidup dalam suka maupun duka, dalam tawa maupun tangis" ungkap Draco sepenuh Hati.

Hermione menghela nafasnya dalam dalam sebelum ia mengucap janji seperti Draco, "Saya Hermione Jane Granger dengan ini menyatakan diri bersedia untuk menerima Draco Lucius Malfoy dengan saksi seluruh hadirin, pendeta, dan Tuhan beserta malaikatnya dan saya bersedia hidup bersamanya seumur hidup dalam suka maupun duka, dalam tawa maupun tangis."

 

Beberapa saat setelah mereka berdua saling memasangkan cincin pernikahan, pendeta mengesahkan pernikahan mereka, "dengan ini saya menyatakan kalian berdua telah sah sebagai pasangan suami istri, dan kau boleh mencium pasanganmu."

Dan diiringi dengan lemparan kelopak bunga bunga mawar merah, mereka berdua akhirnya saling berbagi ciuman. Yang tidak menuntut tapi penuh kehangatan, yang tanpa hasrat tapi penuh getar cinta, yang tanpa kepalsuan tapi penuh kejujuran. Dan pada hari ini, akan menjadi valentine yang paling diingat Hermione.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar