Hermione's Day
Draco Malfoy – Hermione Grangrer
Drama - Romance
Disclaimer : J.K Rowling.
Summary
: Draco berlutut di hadapan Hermione dan menatapnya tepat di kedua
mata hazel yang indah itu, "Hermione Jane Granger, est –ce que tu c'est
marier?" –Short Fiction for valentine day-
Notredame cathedral, Paris, France. February 14th 2006
Aku
melangkahkan kakiku seirama dengan mars pernikahan yang dikumandangkan
piano gereja, kedua kaki cantik milikku ku langkahkan dengan percaya
diri dan tangguh seakan tidak akan hancur diterjang ombak. Senyum
terulas indah di wajahku megambarkan kebahagiaan yang aku rasakan saat
ini, berjalan di altar menuju kekasih yang sebentar lagi akan menjadi
suamiku. Menemui seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku
selamanya.
Kepalaku sedikit tertunduk malu mengingat aku
belum cukup bersolek pagi ini - menurut pemikiranku tentu saja-
seingatku, 30 menit yang lalu aku baru saja selesai berdandan dan
mematut wajah cantikku yang dibingkai dengan rambut berwarna
kecokelatan yang digelung 'french twist' dan menggunakan tiara
manis milik Bibi Narcissa –atau 'calon' ibu mertuaku-. Di wajahku
sendiri terpulas make up manis hasil karya Ginny dan Luna, sahabat
baikku –tentu saja setelah Ron dan Harry, tapi apa aku mungkin mempercayakan wajahku pada mereka? Tentu saja tidak!-
sedangkan di badanku melekat gaun backless buatan Madam Malkin yang
indah sekali, berhiaskan manik berukir dari dadaku sampai pinggang
bagian belakang dimana ekor gaun ku yang mengembang panjang menempel
sempurna. Warna cokelat pastel berpadu dengan hijau zamrud pun sangat
manis di mataku, sungguh hari terbaik dalam hidupku.
Senyum
kembali terukir ketika aku telah sampai di tengah perjalanan menuju
altar dimana kekasihku telah berdiri tinggi menjulang di depan altar
yang aku yakin sekali sedang menahan dirinya untuk berbalik dan segera
berlari mengejarku. Kekasihku, mempelai pria nya, berdiri gagah dengan
menggunakan jas berwarna putih yang semakin membuatnya bercahaya dan
rambut pirangnya yang telah dipotong rapi membuatku tak tahan untuk tak
menyentuhnya, dan demi merlin! Dari kejauhan pun aku dapat mencium
aroma tubuhnya yang selalu ada di memoriku, mint segar.
Mencoba
untuk tak terlihat gugup, aku pun bermain main dengan pecahan - pecahan
kenangan selama kita berdua berpacaran dulu, ketika Draco melamarku.
-London, January 24th 2005-
Hermione
mempercepat langkahnya, setengah tak ingin mati membeku dan setengah
ingin segera menemui Draco Malfoy, kekasihnya, yang seharusnya sudah
akan ditemuinya sedari 30 menit yang lalu apabila kereta yang
ditumpanginya tidak terjebak di tengah - tengah perjalanan.
Udara
dingin yang menggigit seakan tak menghalangi derap langkah Hermione
untuk segera memasuki tempat yang cukup familier dengannya, Apartemen
Draco. Tanpa berbasa - basi lagi Hermione segera memasuki lift yang akan
membawanya menuju lantai 3, tempat dimana kamar Draco berada. Dan
dalam hitungan detik dirinya telah sampai di depan pintu kamar Draco,
sedikit gugup dan memastikan peampilannya cukup rapi, dengan dorongan
singkat dirinya telah memasuki kamar Draco.
Belum
mencopot matelnya, Hermione sudah berkeluh kesah, "sorry, I'm late. Aku
terjebak ditengah perjalanan, kau tahu lah, London," keluh Hermione
kepada sosok tampan di hadapannya.
Draco berbalik badan dan
meninggalkan kopernya yang setengah terisi untuk menatap kekasihnya
yang terkadang bersikap kekanak - kanakan ini, "shh.. sudahlah sayang.
Kau tidak terlalu terlambat, aku bahkan belum mengeluarkan pizza dan
winenya. Tenanglah, Mione, terlambat 30 menit tidak akan membuatku
berhenti mencintaimu." Goda Draco sambil terkekeh.
Hermione tersenyum singkat sebelum mengecup bibir kekasihnya dan melangkah menuju pantry kecil di sudut ruangan.
"Well,
kalau begitu mari kita mulai makan malamnya," ucap Hermione yang
kelaparan seraya mengeluarkan pizza dari microwave dan membawa serta dua
gelas tinggi dengan sebotol wine dari lemari bawah.
Senyum Draco
merekah ketika Hermione sudah duduk di hadapannya, kekasihnya ini
selalu bisa membuatnya tertawa, baik hari itu merupakan hari termurung
sekalipun. Kekasihnya selalu bisa membuatnya kembali ceria, dan karena
itulah ia harap yang akan menjadi keputusannya kali ini tidak akan
salah.
"Hm…. Honey, aku berencana untuk pergi dalam
beberapa hari ini, sekitar 2 atau 3 minggu, aku harap kau mau
mengerti," ucap Draco pelan, takut membuat gadisnya meledak marah.
Hermione
mendongakkan kepalanya, bibirnya ia kerucutkan sedikit, "haruskah,
Dray? Bukannya kau baru saja pulang dari Jerman kemarin lusa, dan
kemarin dulu kau baru saja berjanji untuk tinggal sedikit lebih lama,
aku masih merindukanmu, Dray," ungkap Hermione yang tentu saja tak
ingin ditinggalkan Draco.
Draco menghela nafasnya berat,
ia selalu benci saat - saat ini, dimana ia harus meyakinkan Hermione
bahwa ia akan kembali dan ia pasti akan tetap mencintai Hermione.
"Tentu saja aku akan tinggal, Mione. Tapi ijinkan aku sekali ini saja, lagipula kau akan menemaniku, bukan?" Goda Draco.
Hermione mengerutkan dahinya, "menemanimu? Apa maksudmu, Draco?"
Draco tersenyum penuh rahasia, "coba kau lihat apa yang ada di dalam tas mu" ucapnya.
Hermione
semakin penasaran dan segera merogoh setiap kantong yang ada di tasnya
sebelum akhirnya terpekik senang, "Paris, Draco? Kau mengajakku
kesana? Oh Draco…. Ini lebih dari sekedar hadiah, apa yang bisa aku
berikan padamu sebagai gantinya?"
Draco tersenyum senang, "kau pasti tahu ketika kita sudah sampai disana" ucapnya disertai seringaian lebar.
-Paris, January 13th 2005
Paris,
seperti yang selalu dibayangkan adalah tempat menarik untuk Draco dan
Hermione, ia sendiri tak dapat menahan hasratnya untuk segera menarik
Draco ke gereja terdekat dan memaksanya segera menikahinya disini, hidup
bersama dalam kurun waktu hampir 10 hari adalah cobaan yang besar kau
tahu? Mereka sendiri tak bisa melewatkan pagi siang dan malam mereka
tanpa berbagi ciuman yang hangat, di sisi lain karena mereka penuh cinta
dan hal ini sangat jarang untuk mereka lakukan mengingat pekerjaan
Draco sebagai diplomat yang pastinya sering kali berurusan dengan
pergi-lama-jangan-tanya-kapan-aku-akan-kembali, namun di sisi lain tentu
saja ia bersyukur, bagaimana tidak? Apabila Draco bukan seorang
diplomat yang sering berpergian ke luar negeri, tentu saja mereka tidak
akan semudah ini menemukan tempat romantic untuk menghabiskan 2 hari
terakhir mereka di Perancis seperti saat ini.
"Bon appétit, monsieur." Ucap seorang pelayan berambut emas seraya menuangkan wine di kedua gelas mereka.
Setelah
wine dituangkan, pelayan tersebut mohon diri dan tak tampak lagi di
sekitar mereka, yang berarti ini adalah 'kesempatan' untuk Draco.
Draco
menggenggam tangan Hermione yang bebas dan tersenyum tulus pada
kekasihnya ini, "Mon Cherrie, aku telah memikirkan semua ini sejak kita
masih berada di London, dan aku telah memutar otakku untuk menemukan
saat yang tepat, seperti yang kau tahu 5 menit lagi telah menunjukkan
tanggal 14 februari, hari valentine. Dan aku mau dirimu mengetahui
betapa besar rasa cintaku padamu," ungkap Draco penuh kesungguhan.
Tak
menunggu Hermione untuk berkata - kata, Draco berlutut di hadapan
Hermione dan menatapnya tepat di kedua mata hazel yang indah itu,
"Hermione Jane Granger, est –ce que tu c'est marier?"
Hermione tak
dapat berkata kata, yang bisa ia lakukan hanyalah membelakak tajam dan
mendekap mulutnya yang terbuka lebar, melihat itu Draco buru - buru
menambahkan.
"Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, Mione.
Kita bisa mempunyai banyak anak, berapa yang kau mau? Lima? Atau malah
sepuluh? Aku memiliki cukup uang untuk membesarkan keluarga besar
layaknya keluarga Weasley, apapun akan kulakukan demi dirimu, Mione,"
ungkapnya gugup.
Setelah sosok di hadapannya mulai tenang,
giliran Hermione yang menenangkan diri. Dengan nafas putus - putus,
akhirnya Hermione menerima uluran tangan Draco yang sedari tadi
berlutut di lantai batu demi sebuah kata 'ya' singkat darinya, dan ia
dengan sepenuh hati menyetujui ajakan Draco, "bagaimana aku bisa
menolak untuk menikahimu, Draco? Tentu saja aku mau!" Seru Hermione
sebelum mereka saling menghambur dalam pelukan penuh cinta.
Notredame cathedral, Paris, France. February 14th 2006
Mars
pernikahan berakhir manis dimana aku berhenti tepat di depan altar,
sosok tampan disampingku tersenyum manis –tentu saja ia menahan dirinya
untuk berlari ke arahku- senyumnya seakan tak mau pudar dari wajahnya,
bagian ekor dari gaunku telah mengembang cantik di sekitar mereka, dan
tentu saja terima kasih Tuhan rambut dan dandannya tidak mengalami
perubahan apapun, sejauh ini ia tetap cantik.
Pendeta mengangkat
tangan kanannya, meminta seluruh pengunjung duduk kembali, ia tersenyum
pada Hermione dan Draco sebelum mengawali doa, setelah prosesi doa dan
pemberkatan, ia menuntun kedua mempelai untuk mengucap janji
pernikahan.
Draco memandang Hermione tepat pada mata
hazelnya sebelum ia mengucap janji pernikahan, "Saya Draco Lucius
Malfoy dengan ini menyatakan diri bersedia untuk menikahi Hermione Jane
Granger dengan saksi seluruh hadirin, pendeta, dan Tuhan beserta
malaikatnya dan saya bersedia hidup bersamanya seumur hidup dalam suka
maupun duka, dalam tawa maupun tangis" ungkap Draco sepenuh Hati.
Hermione
menghela nafasnya dalam dalam sebelum ia mengucap janji seperti Draco,
"Saya Hermione Jane Granger dengan ini menyatakan diri bersedia untuk
menerima Draco Lucius Malfoy dengan saksi seluruh hadirin, pendeta, dan
Tuhan beserta malaikatnya dan saya bersedia hidup bersamanya seumur
hidup dalam suka maupun duka, dalam tawa maupun tangis."
Beberapa
saat setelah mereka berdua saling memasangkan cincin pernikahan,
pendeta mengesahkan pernikahan mereka, "dengan ini saya menyatakan
kalian berdua telah sah sebagai pasangan suami istri, dan kau boleh
mencium pasanganmu."
Dan diiringi dengan lemparan kelopak bunga
bunga mawar merah, mereka berdua akhirnya saling berbagi ciuman. Yang
tidak menuntut tapi penuh kehangatan, yang tanpa hasrat tapi penuh
getar cinta, yang tanpa kepalsuan tapi penuh kejujuran. Dan pada hari
ini, akan menjadi valentine yang paling diingat Hermione.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar