Minggu, 01 Juli 2012

Birthdaay Present-Dramionie

Summary: Ulang tahun Draco tinggal tiga hari lagi, Hermione bingung mau memberikan Draco hadiah apa. Jam tangan, kaos, sepatu, itu semua sudah pernah ia berikan. Dan Ginny memberikan sebuah ide, tapi Hermione tak bisa melakukannya, dan Ginny pun membantu Hermione.


Sejak pagi Hermione terlihat bingung, dari tadi ia hanya berjalan bolak balik, ini sugguh mengherankan. Hermione si nona sok tahu ini tak akan pernah merelakan waktu berhargnya hanya untuk kegiatan seperti ini. Dari pada bolak balik, lebih baik membaca dan belajar bukan? Kedua sahabatnya yang sedari tadi melihat tingkah Hermione merasa terganggu.
"Oh Mione, bisakah kau tidak bertingkah seperti itu eh?" Ron sudah membelalakan matanya.
"Ada apa denganmu Mione? Tak biasanya kau seperti ini." Ujar Harry bingung dan agak risih dengan sahabatnya yang satu ini.
"Ron, Harry, tak bisakah kaliantutup mulut kalian hah?" rambut Hermionesudah mula tak beraturan ditambah dengan wajahnya yang memerah karena menahan marah.
"Sudahlah Mione, aku pergi saja ke kamarku, dari pada melihatmu seperti setrikaan panas begitu." Kata Ron sambil menjulurkan lidah.
"Emh Mione, aku juga ikut dengan Ron ya." Harry berkata lirih sambil berlari mengikuti jejak Ron yang sudah mendahuluinya.
"YA YA YA TERSERAH KALIAN! AAArrrrGGGhhhh..." Hermione berteriak frustasi, kini rambut, wajah, dan bajunya sudah tak keruan bentuknya.
           
Tap Tap Tap

"Mione, kau kenapa? Tadi aku mendengar ada yang berteriak, itu kau?" gadis berambut merah itu duduk di sebuah sofa sambil memperhatikan gerak gerik Hermione yang masih seperti tadi,yaitu 'bolak balik'.
"Gin, help me, kau tahu kan tiga hari lagi Malfoy ulang tahun! Apa yang harus aku berikan untuknya? Berikan aku saran Gin."
"Itu mudah Mione, kau bisa memberikannya jam tangan, kaos, sepatu, atau kau juga bisa memasak sesuatu yang special untuk Malfoy." Ginny menatap Hermione lekat-lekat.
"Itu sudah pernah kuberi Gin, yah kecuali memasak tentunya, tapi kau tahu kan jika aku tak bisa memasak." Hermione berkata dengan nada pelan.
"Oh tenang lah Mione, kau bisa belajar denganku, mungkin kau bisa memasak yang sederhana, seperti fried rice?"
"Benarkah kau mau mengajariku Gin?" mata Hermione berbinar mendengar ide Ginny.
"Of course Mione, besok kita bisa memulai pelajaran kita."
"Thanks Ginny Weasly, tapi tak bisakah kita mulai hari ini saja?" tanya Hermione tak sabar.
"Tidak Mione, hari ini aku harus menemui Prof. Mcgonagall."
"Lalu sekarang aku harus apa?" tanya Hermione bingung.
"Kau bisa belajar Mione, santailah sedikit, okay? Oh Mione, aku harus pergi, aku sudah terlambat, bye Mione."
"Bye Gin, lalu apa yang sebaiknya aku lakukan? Oh ya, aku bisa ke perpustakaan, mungkin di sana ada resep masakan." Ujar Hermione setelah Ginny pergi.

Hermione bergegas mengganti pakaiannya yang sudah kusut, tak lupa ia juga menyisir rambutnya.
#-^.^-#


Hermione menyusuri rak buku, tangannya menelusuri buku satu persatu. 'Buku Resep' ya akhirnya ia menemukan buku yang dicarinya. Hermione segera menarik buku itu perlahan dan segera membacanya. Matanya bergerak ke kanan kiri dengan cepat.

"Hmm, agak rumit juga ternyata membuatnya." Gumam Hermione perlahan.
"Hei Mione, sedang apa eh?"
"Eh eh Malfoy, tidak sedang apa apa kok." Kata Hermione sambil menutup bukunya dan menaruhnya kembali ke rak buku.
"Barusan kau membaca apa?"
"Mmh, hanya hanya.." kata Hermione terbata bata.
"Hanya apa? Ah sudah lupakan saja, kau ada waktu Mione?"
"Ada apa Malfoy? Ada masalah?"
"Tidak Mione, eh, aku harus pergi."
"Aneh sekali Malfoy, tidak seperti biasanya."

Hermione kembali mengambil buku yang tadi dibacanya dan meminjamnya.
#-^.^-#


"Aduh, tinggal dua hari lagi, bagaimana ini?" gumam Hermione gelisah.
"Tenanglah Mione, kau pasti bisa." Hibur Ginny.
"Ayo Gin kita mulai sekarang." Ucap Hermione tak sabar.
"Okay, kau sudah mempersiapkan seluruh bahannya kan Mione?"
"Of course Gin, semua sudah kusiapkan." Kata Hermone seraya mengambil buku resep di atas meja.
"Ya, ayo kita mulai pelajarannya Mione."
"Ya Ms. Weasly, mari kita mulai." Hermione berkata dengan semangat.
"Sekarang, tumis bawang putih, bawang merah, dan cabai merah yang sudah dihaluskan sampai berbau harum." Ujar Ginny pada Hermione.

Hermione segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Ginny yang sekarang menjadi guru memasaknya itu.

"Ya bagus, baunya sudah mulai tercium." Ginny bergumam pelan.
"Lalu setelah ini apa Gin?" tanya Hermione yang sedang sibuk mengaduk aduk masakannya itu.
"Tuang telur, aduk aduk hingga menjadi orak arik." Ucap Ginny sambil membaca resep yang berada di tangannya.
Hermione bergegas mengambil telur dan menuangkannya, lalu mengaduk aduknya sebentar.
"Okay, next, masukkan nasi, aduk hingga rata dengan bumbu." Ginny memperhatikan Hermione yang sedang memasukkan nasi.
"Oh, jangan sampai ada yang menggumpal Mione." Ginny mengingatkan Hermione.
"The last, tambahkan merica bubuk, garam, dan saus tomat." Ginny membacakan step terakhir.
"Begini saja Gin?" tanya Hermione tak percaya.
"Ya memang begitu Mione."
"Mudah sekali, aku tak menyangka."
Ginny mengambil sendok dan segera mencicipinya.
"Mmh Mione, coba kau cicipi." Perintah Ginny pada Hermione.
"Ada apa Gin? Bagaimana rasanya?"
"Kau coba saja sendiri Mione."

Hermione mencicipi masakannya tersebut, dan ternyata rasanya. . .

"Oh Gin! Asin, sangat asin!" teriak Hermione.
"Kau memasukkan garamnya terlalu banyak Mione, hanya itu, santailah, kau bisa mencoba membuatnya lagi." Hibur Ginny.
"Ooh.. Gin.. me.. mengapa rasanya begini?" isak Hermione tertahan.
Ginny mendekati sahabatnya ini lalu memeluknya.
"Tak apa Mione, ini sudah bagus, hanya terlalu banyak garam. Tak apa gagal untuk kali ini Mione."

Hermione terduduk di lantai, ia merasa kecewa, sangat kecewa.
#-^.^-#


"Hari ini aku tak boleh gagal, aku harus berhasil." Tekad Hermione ketika ia akan memulai percobaan memasaknya untuk yang kedua kalinya.
"Mione, benarkah kau mau melakukannya sendiri?" Ginny mendekati Hermione yang tengah bersiap untuk memasak.
"Of course Gin, aku akan melakukannya sendiri." Hermione tersenyum perlahan kepada Ginny, walaupun ia merasa kurang percaya diri untuk melakukannya tanpa bantuan Ginny.
"Okay Mione, aku pergi dulu ya, bye" Ginny melambaikan tangannya pada Hermione.
"Ya aku akan memulainya, besok dia sudah ulangtahun."

Hermione membuat fried rice seperti kemarin, bedanya kini ia hanya menggunakan sedikit garam.
Setelah hampir setengah jam memasak, akhirnya ia pun selesai. Hermione mengambil sendok dan mencicipinya.

"Hmm... Kali ini terasa hambar, oh mengapa selalu gagal" ucap Hermione sedih.
"Bagaimana Mione?" Ginny menghampiri Hermione yang masih memegang sendok.
Ginny merasa heran dengan sikap Hermione yang masih diam, Ginny segera mengambil sendok yang dipegang oleh Hermione lalu mencicipi masakan Hermione.
"Tidak apa Mione, masih ada besok." Ginny mencoba menenangkan sahabatnya ini.
"Besok terakhir Gin, aku harus bagaimana seandainya besok tidak berhasil?" Hermione agak berteriak pasrah.
"Tenang Mione, ini sudah enak, hanya kurang berasa. Malfoy juga pasti akan memakannya."
"Ta.. tapi.. aku tidak bisa membuatkan yang terbaik untuknya Gin." Mata Hermione kini mulai berkaca kaca.
"Sudah Mione, masih ada besok." Ucap Ginny sambil memeluk sahabatnya.
.
.
.
Hari ini aku gagal lagi! Apa mungkin besok aku akan berhasil? Oh God, besok adalah hari terakhir! Ya aku harus bisa, aku tak boleh gagal, aku yakin aku bisa membuat yang terbaik untuknya.
#-^.^-#


'Ya hari ini adalah hari terakhir, entah jika kali ini aku gagal, aku tak tahu harus memberikan Malfoy hadiah apa lagi.'
Seperti hari hari sebelumnya, Hermione kembali mengulanginya lagi, tapi kali ini ia benar-benar teliti dalam menentukan takaran bumbu. Ginny memperhatikan Hermione dari jauh. Ginny tersenyum pelan melihat betapa seriusnya Hermione meamasak.
.
.
.

"Ya selesai!" teriak Hermione senang, lalu bergegas mencicipinya.
"Bagaimana Mione?" tanya Ginny yang sedari tadi memperhatikannya.
"Hmm... ENAK.." Hermione memeluk Ginny.
"Baguslah Mione, akhirnya kau berhasil, bolehkah aku mencicipinya?" kata Ginny sambil tersenyum menatap Hermione.
"Of course Gin, coba kau cicipi."
Ginny segera mengambil sendok dan mencicipinya.
"Kau benar Mione, ini sangat enak. Malfoy pasti senang mendapatkan hadiah ini darimu."
Pipi Hermione memerah, ia merasa malu atas pujian yang diberikan oleh Ginny.
"Mione, temui Malfoy dan berikan padanya."
Setelah memasukkan fried rice ke dalam box lunch, ia mengenakan sweaternya dan segera menemui Malfoy.
Ia melewati beberapa teman Malfoy.
"Hai Zabini, kau lihat Malfoy?"
"Hai Granger, Drake, mmh, sepertinya ia sedang ada di danau."
"Thanks Zabini." Hermione bergegas menuju tempat yang diberitahu oleh Zabini.
.
.
.

"Malfoy..." seru Hermione memanggil Draco.
"Ada apa Mione?" tanya Draco sambil berjalan mendekati Hermione.
Setelah Draco berada di dekatnya, Hermione menyerahkan lunch box.
"Malfoy, ini aku membuatnya untukmu. Happy Birthday." Ucap Hermione malu.
Draco membuka dan mencicipinya.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Hermione penasaran.
"Hmm, so delicious, thank you my princess." Kata Draco sambil tersenyum.
"Eh, i.. iya Malfoy, your welcome."

Lama mereka hanya duduk diam, lalu tiba tiba Hermione merasa ada sesuatu yang menempel di bibirnya. Oh My... Draco menciumnya! Ya walau pun hanya ciuman sekilas. Muka Hermione memanas, ia malu.

"Maaf, maafkan aku Mione, aku tak sengaja." Ujar Draco penuh penyesalan.
"Tidak apa Draco..." Hermione tersenyum melihat pangerannya satu ini.
"Boleh aku melakukannya lagi? Ini hadiah terbaik yang pernah kuterima."
Hermione tersenyum dan mengangguk. Mereka pun melanjutkan ciuman mereka tadi. Setelah beberapa saat mereka melepaskan ciuman itu karena kehabisan nafas.
"Je t'aime my princess." Ujar Draco sambil memeluk mesra Hermione.
"Me too my prince." Hermione tersenyum dan membalas pelukan Draco.

~THE END~

Kamis, 21 Juni 2012

Hermione's Day

Draco Malfoy – Hermione Grangrer

Drama - Romance

 Disclaimer : J.K Rowling.

 

Summary : Draco berlutut di hadapan Hermione dan menatapnya tepat di kedua mata hazel yang indah itu, "Hermione Jane Granger, est –ce que tu c'est marier?" –Short Fiction for valentine day-

 

Notredame cathedral, Paris, France. February 14th 2006

 

Aku melangkahkan kakiku seirama dengan mars pernikahan yang dikumandangkan piano gereja, kedua kaki cantik milikku ku langkahkan dengan percaya diri dan tangguh seakan tidak akan hancur diterjang ombak. Senyum terulas indah di wajahku megambarkan kebahagiaan yang aku rasakan saat ini, berjalan di altar menuju kekasih yang sebentar lagi akan menjadi suamiku. Menemui seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku selamanya.

 

Kepalaku sedikit tertunduk malu mengingat aku belum cukup bersolek pagi ini - menurut pemikiranku tentu saja- seingatku, 30 menit yang lalu aku baru saja selesai berdandan dan mematut wajah cantikku yang dibingkai dengan rambut berwarna kecokelatan yang digelung 'french twist' dan menggunakan tiara manis milik Bibi Narcissa –atau 'calon' ibu mertuaku-. Di wajahku sendiri terpulas make up manis hasil karya Ginny dan Luna, sahabat baikku tentu saja setelah Ron dan Harry, tapi apa aku mungkin mempercayakan wajahku pada mereka? Tentu saja tidak!- sedangkan di badanku melekat gaun backless buatan Madam Malkin yang indah sekali, berhiaskan manik berukir dari dadaku sampai pinggang bagian belakang dimana ekor gaun ku yang mengembang panjang menempel sempurna. Warna cokelat pastel berpadu dengan hijau zamrud pun sangat manis di mataku, sungguh hari terbaik dalam hidupku.

 

Senyum kembali terukir ketika aku telah sampai di tengah perjalanan menuju altar dimana kekasihku telah berdiri tinggi menjulang di depan altar yang aku yakin sekali sedang menahan dirinya untuk berbalik dan segera berlari mengejarku. Kekasihku, mempelai pria nya, berdiri gagah dengan menggunakan jas berwarna putih yang semakin membuatnya bercahaya dan rambut pirangnya yang telah dipotong rapi membuatku tak tahan untuk tak menyentuhnya, dan demi merlin! Dari kejauhan pun aku dapat mencium aroma tubuhnya yang selalu ada di memoriku, mint segar.

Mencoba untuk tak terlihat gugup, aku pun bermain main dengan pecahan - pecahan kenangan selama kita berdua berpacaran dulu, ketika Draco melamarku.

 

-London, January 24th 2005-

 

Hermione mempercepat langkahnya, setengah tak ingin mati membeku dan setengah ingin segera menemui Draco Malfoy, kekasihnya, yang seharusnya sudah akan ditemuinya sedari 30 menit yang lalu apabila kereta yang ditumpanginya tidak terjebak di tengah - tengah perjalanan.

 

Udara dingin yang menggigit seakan tak menghalangi derap langkah Hermione untuk segera memasuki tempat yang cukup familier dengannya, Apartemen Draco. Tanpa berbasa - basi lagi Hermione segera memasuki lift yang akan membawanya menuju lantai 3, tempat dimana kamar Draco berada. Dan dalam hitungan detik dirinya telah sampai di depan pintu kamar Draco, sedikit gugup dan memastikan peampilannya cukup rapi, dengan dorongan singkat dirinya telah memasuki kamar Draco.

 

Belum mencopot matelnya, Hermione sudah berkeluh kesah, "sorry, I'm late. Aku terjebak ditengah perjalanan, kau tahu lah, London," keluh Hermione kepada sosok tampan di hadapannya.

Draco berbalik badan dan meninggalkan kopernya yang setengah terisi untuk menatap kekasihnya yang terkadang bersikap kekanak - kanakan ini, "shh.. sudahlah sayang. Kau tidak terlalu terlambat, aku bahkan belum mengeluarkan pizza dan winenya. Tenanglah, Mione, terlambat 30 menit tidak akan membuatku berhenti mencintaimu." Goda Draco sambil terkekeh.

 

Hermione tersenyum singkat sebelum mengecup bibir kekasihnya dan melangkah menuju pantry kecil di sudut ruangan.

"Well, kalau begitu mari kita mulai makan malamnya," ucap Hermione yang kelaparan seraya mengeluarkan pizza dari microwave dan membawa serta dua gelas tinggi dengan sebotol wine dari lemari bawah.

Senyum Draco merekah ketika Hermione sudah duduk di hadapannya, kekasihnya ini selalu bisa membuatnya tertawa, baik hari itu merupakan hari termurung sekalipun. Kekasihnya selalu bisa membuatnya kembali ceria, dan karena itulah ia harap yang akan menjadi keputusannya kali ini tidak akan salah.

 

"Hm…. Honey, aku berencana untuk pergi dalam beberapa hari ini, sekitar 2 atau 3 minggu, aku harap kau mau mengerti," ucap Draco pelan, takut membuat gadisnya meledak marah.

Hermione mendongakkan kepalanya, bibirnya ia kerucutkan sedikit, "haruskah, Dray? Bukannya kau baru saja pulang dari Jerman kemarin lusa, dan kemarin dulu kau baru saja berjanji untuk tinggal sedikit lebih lama, aku masih merindukanmu, Dray," ungkap Hermione yang tentu saja tak ingin ditinggalkan Draco.

 

Draco menghela nafasnya berat, ia selalu benci saat - saat ini, dimana ia harus meyakinkan Hermione bahwa ia akan kembali dan ia pasti akan tetap mencintai Hermione.

"Tentu saja aku akan tinggal, Mione. Tapi ijinkan aku sekali ini saja, lagipula kau akan menemaniku, bukan?" Goda Draco.

Hermione mengerutkan dahinya, "menemanimu? Apa maksudmu, Draco?"

Draco tersenyum penuh rahasia, "coba kau lihat apa yang ada di dalam tas mu" ucapnya.

Hermione semakin penasaran dan segera merogoh setiap kantong yang ada di tasnya sebelum akhirnya terpekik senang, "Paris, Draco? Kau mengajakku kesana? Oh Draco…. Ini lebih dari sekedar hadiah, apa yang bisa aku berikan padamu sebagai gantinya?"

Draco tersenyum senang, "kau pasti tahu ketika kita sudah sampai disana" ucapnya disertai seringaian lebar.

 

-Paris, January 13th 2005

 

Paris, seperti yang selalu dibayangkan adalah tempat menarik untuk Draco dan Hermione, ia sendiri tak dapat menahan hasratnya untuk segera menarik Draco ke gereja terdekat dan memaksanya segera menikahinya disini, hidup bersama dalam kurun waktu hampir 10 hari adalah cobaan yang besar kau tahu? Mereka sendiri tak bisa melewatkan pagi siang dan malam mereka tanpa berbagi ciuman yang hangat, di sisi lain karena mereka penuh cinta dan hal ini sangat jarang untuk mereka lakukan mengingat pekerjaan Draco sebagai diplomat yang pastinya sering kali berurusan dengan pergi-lama-jangan-tanya-kapan-aku-akan-kembali, namun di sisi lain tentu saja ia bersyukur, bagaimana tidak? Apabila Draco bukan seorang diplomat yang sering berpergian ke luar negeri, tentu saja mereka tidak akan semudah ini menemukan tempat romantic untuk menghabiskan 2 hari terakhir mereka di Perancis seperti saat ini.

 

"Bon appétit, monsieur." Ucap seorang pelayan berambut emas seraya menuangkan wine di kedua gelas mereka.

Setelah wine dituangkan, pelayan tersebut mohon diri dan tak tampak lagi di sekitar mereka, yang berarti ini adalah 'kesempatan' untuk Draco.

Draco menggenggam tangan Hermione yang bebas dan tersenyum tulus pada kekasihnya ini, "Mon Cherrie, aku telah memikirkan semua ini sejak kita masih berada di London, dan aku telah memutar otakku untuk menemukan saat yang tepat, seperti yang kau tahu 5 menit lagi telah menunjukkan tanggal 14 februari, hari valentine. Dan aku mau dirimu mengetahui betapa besar rasa cintaku padamu," ungkap Draco penuh kesungguhan.

 

Tak menunggu Hermione untuk berkata - kata, Draco berlutut di hadapan Hermione dan menatapnya tepat di kedua mata hazel yang indah itu, "Hermione Jane Granger, est –ce que tu c'est marier?"

Hermione tak dapat berkata kata, yang bisa ia lakukan hanyalah membelakak tajam dan mendekap mulutnya yang terbuka lebar, melihat itu Draco buru - buru menambahkan.

"Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, Mione. Kita bisa mempunyai banyak anak, berapa yang kau mau? Lima? Atau malah sepuluh? Aku memiliki cukup uang untuk membesarkan keluarga besar layaknya keluarga Weasley, apapun akan kulakukan demi dirimu, Mione," ungkapnya gugup.

 

Setelah sosok di hadapannya mulai tenang, giliran Hermione yang menenangkan diri. Dengan nafas putus - putus, akhirnya Hermione menerima uluran tangan Draco yang sedari tadi berlutut di lantai batu demi sebuah kata 'ya' singkat darinya, dan ia dengan sepenuh hati menyetujui ajakan Draco, "bagaimana aku bisa menolak untuk menikahimu, Draco? Tentu saja aku mau!" Seru Hermione sebelum mereka saling menghambur dalam pelukan penuh cinta.

 

Notredame cathedral, Paris, France. February 14th 2006

 

Mars pernikahan berakhir manis dimana aku berhenti tepat di depan altar, sosok tampan disampingku tersenyum manis –tentu saja ia menahan dirinya untuk berlari ke arahku- senyumnya seakan tak mau pudar dari wajahnya, bagian ekor dari gaunku telah mengembang cantik di sekitar mereka, dan tentu saja terima kasih Tuhan rambut dan dandannya tidak mengalami perubahan apapun, sejauh ini ia tetap cantik.

Pendeta mengangkat tangan kanannya, meminta seluruh pengunjung duduk kembali, ia tersenyum pada Hermione dan Draco sebelum mengawali doa, setelah prosesi doa dan pemberkatan, ia menuntun kedua mempelai untuk mengucap janji pernikahan.

 

Draco memandang Hermione tepat pada mata hazelnya sebelum ia mengucap janji pernikahan, "Saya Draco Lucius Malfoy dengan ini menyatakan diri bersedia untuk menikahi Hermione Jane Granger dengan saksi seluruh hadirin, pendeta, dan Tuhan beserta malaikatnya dan saya bersedia hidup bersamanya seumur hidup dalam suka maupun duka, dalam tawa maupun tangis" ungkap Draco sepenuh Hati.

Hermione menghela nafasnya dalam dalam sebelum ia mengucap janji seperti Draco, "Saya Hermione Jane Granger dengan ini menyatakan diri bersedia untuk menerima Draco Lucius Malfoy dengan saksi seluruh hadirin, pendeta, dan Tuhan beserta malaikatnya dan saya bersedia hidup bersamanya seumur hidup dalam suka maupun duka, dalam tawa maupun tangis."

 

Beberapa saat setelah mereka berdua saling memasangkan cincin pernikahan, pendeta mengesahkan pernikahan mereka, "dengan ini saya menyatakan kalian berdua telah sah sebagai pasangan suami istri, dan kau boleh mencium pasanganmu."

Dan diiringi dengan lemparan kelopak bunga bunga mawar merah, mereka berdua akhirnya saling berbagi ciuman. Yang tidak menuntut tapi penuh kehangatan, yang tanpa hasrat tapi penuh getar cinta, yang tanpa kepalsuan tapi penuh kejujuran. Dan pada hari ini, akan menjadi valentine yang paling diingat Hermione.

My Happy Ending

Hari ini adalah hari pertamaku di sekolah Hogwarts High School, London. Aku sangat merindukan teman-teman lamaku di Paris. Tapi orang-orang di sini juga terlihat menyenangkan. Banyak yang membantuku mengenal tempat ini. Dan aku bertemu seorang lelaki di sini. Draco Malfoy. Dia sangat tampan dan menyenangkan. Rambut pirang platina serta mata kelabunya yang tajam semakin menambah ketampanannya.

Di hari pertama, Draco menemaniku melihat-lihat sekolah baruku. Dan mengantarkanku ke kelasku. Namun setelah hari itu, ia tidak pernah masuk selama seminggu. Ketika ia kembali masuk ke sekolah, ia langsung menghampiriku dan menemaniku berbincang-bincang. Setelah seminggu kami menghabiskan waktu bersama, Draco mengajakku pergi keluar. Hanya berdua. Mungkinkah ini―kencan?

Kencan kami sangat menyenangkan dan kurasa semuanya akan baik-baik saja bagi kami. Setiap hari ia selalu menghampiriku di kelas selama berbulan-bulan lamanya. Kami lebih sering menghabiskan waktu bersama, bahkan kami pergi bersama lebih dari dua kali dalam seminggu.

Sudah dua tahun kami bersama setelah hari pertama aku melihatnya dan hubungan kami tidak juga mengalami perkembangan. Kami masih sering berbincang dan sesekali pergi bersama. Namun hanya sebatas itu. Tidak ada yang spesial. Tunggu! Apa aku mengharapkan hubungan yang spesial dengannya? Jujur, ya. Semakin lama dekat dengannya, semakin sulit menyangkal bahwa aku jatuh cinta padanya entah sejak kapan. Setiap kali kami pergi bersama, aku selalu berharap ia mengatakan sesuatu. Tapi sepertinya aku hanya dapat berharap.

"Hei, Hermione, tebak apa yang aku bawa!" ujarnya saat ia menemuiku dengan tangan di belakang tubuhnya menyembunyikan sesuatu.

Aku menggeleng tanda menyerah setelah beberapa saat menerka dengan jawaban yang salah. Lalu ia menyeringai dan menunjukkan dua buah tiket pertandingan tennis dari tim kesukaan kami.

"Apa itu tiket sungguhan?" tanyaku tidak percaya, dan ia tersenyum menganggukkan kepalanya. "Astaga, Draco. Tiket The Lion? Kau serius?"

"Apa tiket ini terlihat palsu? Tentu saja aku serius dengan ini, Hermione. Kau senang?" katanya dengan seringai yang masih tertempel di wajahnya.

"Tentu saja! Aku sangat mengharapkan dapat menonton permainan mereka secara langsung." Jawabku bersemangat sambil tersenyum lebar. Sungguh, aku tidak tahu bahwa Draco masih ingat ketika aku mengatakan aku sangat menyukai The Lion. Dan ya, perasaan aneh ini semakin menjadi-jadi.

Kami pun pergi menonton pertandingan tennis tersebut bersama. Setelah pertandingan berakhir, Draco mengajakku ke suatu tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya.

"Draco, apa yang akan kita lakukan di tempat seperti ini? Tempat ini sangat… sepi." Tanyaku yang mulai ketakutan.

"Hermione. aku… aku mencintaimu, Hermione." ujarnya seraya menatap mataku dalam-dalam.

"A-aku juga mencintaimu. Tapi kenapa—"

"Kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu barusan?" ucapnya sebelum aku sempat melanjutkan ucapanku sebelumnya.

"Ya, aku bersungguh-sungguh." Ucapku akhirnya setelah beberapa lama terdiam karena sibuk mengendalikan perasaan bahagia yang meluap-luap dalam diriku. Dan aku yakin pipiku sudah semerah tomat saat ini.

"Kalau begitu, cium aku."

"A-apa?" Draco tidak mengatakan apapun lagi dan menungguku. Jujur aku menginginkannya, tapi aku terlalu gugup untuk memulainya.

Setelah lama kami terdiam, aku pun mulai mendekatkan diriku padanya hingga akhirnya bibir lembutnya menyentuh bibirku. Aku merasakan sensasi aneh saat bibir kami bertemu. Seperti ada puluhan kupu-kupu beterbangan dalam perutku. Dan itu merupakan ciuman pertamaku.

"Aku mencintaimu, Hermione." ujarnya setelah kami melepaskan bibir kami.

"Kau sudah mengatakan itu tadi, Draco." jawabku dengan wajah yang aku yakin masih memerah.

"Aku tahu. Karena aku… benar-benar mencintaimu, Hermione." bisiknya dengan perlahan sambil kembali mendekatkan jarak di antara kami dan kembali bibir kami bertemu.

"Draco, apa ada yang ingin kau katakana lagi?" tanyaku yang masih terengah-engah akibat ciuman yang memabukkan tadi. Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi. Apa yang membuatnya mengatakan itu semua. Sejak kapan ia memiliki perasaan yang sama sepertiku?

Namun ia hanya menggelengkan kepalanya. Aku benar-benar tidak mengerti. Yang aku tahu, mulai saat itu, aku berpikir bahwa hidupku akan sempurna dengan adanya Draco di sisiku.

                                                                                                    xxxxx

Tiga minggu sudah sejak hari itu. Aku dan Draco semakin dekat. Aku sampai berpikir bahwa kami adalah pasangan paling sempurna yang pernah ada. Aku bermaksud menemuinya di ruang olah raga. Namun aku lihat Draco sedang berbincang dengan teman-temannya, jadi aku menunggu di dekat pintu ruang tersebut. Dari tempat ini, aku dapat mendengar perbincangan mereka.

"Hei, mate, beritahu kami yang sebenarnya antara kau dengan gadis Granger itu." Aku dengar salah seorang temannya berbicara.

"Baiklah, aku berbohong pada Granger. Aku bilang padanya bahwa aku mencintainya tapi faktanya—"

Aku tidak dapat menunggunya menyelesaikan ucapannya ketika aku mendengar bahwa ia berbohong padaku. Aku berlari sekencang mungkin meninggalkan ruang olah raga tersebut. Aku harus menjauh dari tempat itu. Aku merasa hatiku hancur dan bahkan aku tidak tahu dimana kepingan-kepingan hati itu berada. Bagaimana bisa Draco melakukan ini padaku? Dia mengatkan bahwa ia mencintaiku dan aku mempercayainya. Dia mengatakan bahwa ia ingin selalu bersamaku dan aku juga mempercayainya.

Aku tidak ingat berada di mana sekarang, tapi aku tahu aku tidak pernah ingin kembali ke kelas lagi, ia pasti berada di sana. Aku tidak yakin aku bisa mengendalikan perasaanku di hadapannya. Tidak ada lagi seorangpun di sampingku. Dan sekali lagi, air mata mengalir deras dari pelupuk mataku.

"Hermione! apa yang kau lakukan di tempat dingin seperti ini? Kau bisa mem—" ujar suara Draco yang tanpa kusadari telah berdiri di sampingku. Ia berhenti ketika melihatku menangis. "Mione, apa yang terjadi? Apa yang membuatmu menangis seperti ini?" lanjutnya, tangannya hendak menyentuh wajahku.

Sontak aku menepis tangannya sebelum benar-benar menyentuh wajahku. "Kau bisa menghentikan aktingmu sekarang juga, Draco." ia hendak bicara tapi aku menyelanya, "kau tidak perlu berbohong lagi padaku, Draco. jika kau tidak menyukaiku, yang perlu kau lakukan hanyalah berkata tidak."

"Hermione, sungguh, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan." Jawabnya, raut wajah bingung terlihat jelas darinya. Untuk sesaat, aku sangat ingin mempercayai bahwa aku salah mendengar waktu itu. Namun saat aku teringat ucapannya itu, semakin aku tidak ingin percaya dengan apapun yang akan dikatakannya. "Aku mencintaimu, jika itu yang ingin kau tahu. Aku telah mengatakannya, kau tahu itu, Mione. Kau tahu aku mencintaimu."

Bagaimana bisa ia berkata bohong di hadapanku langsung seperti ini? "Ya, kau telah mengatakan hal itu, tapi kau tahu itu tidak benar."

"Apa yang kau maksud?"

Oh Draco, kau tahu benar apa yang kumaksud. Kau telah berbohong dan menghancurkan hatiku sekarang. Sungguh, aku hanya ingin kau pergi sekarang. Aku tidak sanggup menatapmu lagi. Itu hanya akan membuatku semakin terluka. Tentu saja aku tidak bisa mengatakan itu di hadapannya. Aku terlalu pengecut. "Kau tahu draco, kau lelaki yang baik. Banyak gadis yang telah menunggumu di luar sana. kenapa tidak kau temui saja mereka?" hanya itu yang kukatakan padanya.

"Aku tidak mau. Karena sudah ada kau di sini. Aku tidak mau yang lain, Mione. Tolong." Ucapnya dengan lirih.

Mataku kembali memanas dan air mataku kembali jatuh. "Tolong, Draco, pergi."

"Mione, kimohon, jangan lakukan ini padaku." Pintanya, dan dapat kulihat air mata juga mengalir perlahan di wajah pucatnya.

Kau menangis, Draco? kenapa kau menangis seperti itu? Kau membuat ini semakin sulit. Beberapa menit yang lalu kau bercerita kepada teman-temanmu bahwa kau membohongiku, dan sekarang kau menangis seolah kau terlalu mencintaiku. Aku membalikkan tubuhku, tidak ingin aku menatap matanya saat ini. "Aku melakukan ini demi kebaikan kita, Draco. aku mencintaimu. Dan akan selalu mencintaimu. Tolong, tolong jangan pernah lupakan apa yang telah kita lalui, Draco. kau telah membohongiku dengan mudahnya, dan aku tidak bisa menerima hal itu."

Aku melihat wajahnya sekali lagi, wajahnya semakin basah oleh air mata. Aku tidak pernah melihatnya menangis sebelumnya. Draco adalah orang yang tidak akan dengan mudahnya menunjukkan emosinya. Aku menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatiku, dan pergi meninggalkannya. Pergi untuk memulai hidup baru yang ditemani kesepian.

                                                                                               xxxxx

Waktu terasa sangat lambat tanpa adanya Draco yang menemaniku lagi. Dua tahun sudah sejak kejadian hari itu. Dan di sinilah aku sekarang. Sendiri di tengah hilir mudik pengunjung sebuah taman rekreasi. Aku berjalan sambil sesekali melihat burung-burung merpati yang berkumpul di sepanjang jalan. Dan aku melihatnya, tak jauh dari tempatku berdiri, Draco Malfoy sedang memberi makan burung-burung merpati yang mengerumuninya.

Tanpa sadar aku berhenti melangkah dan mengamatinya. Ia masih sama seperti dulu, seperti Draco Malfoy yang kukenal. Ketika ia mengangkat wajahnya, mata kami bertemu. Draco tersenyum dan menghampiriku.

"Hai." Aku menyapanya lebih dulu.

"Hai." Balasnya.

"Bagaimana kabarmu, Draco? Lama tidak bertemu." Aku tahu uacapanku terdengar bodoh. Tentu saja kami sudah lama tidak bertemu. Dan aku yang memutuskan hubungan kami sebelumnya.

"Uhm, aku—" belum sempat ia menjawabnya, seseorang memanggil namanya. "Err… Aku rasa aku harus pergi sekarang, Hermione."

"Oh, baiklah."

Singkat. Sangat singkat. Dan sekarang ia telah pergi. Aku tidak percaya bagaimana mungkin setelah sekian lama tidak bertemu, yang ia katakan hanyalah 'Hai' dan setelah itu ia pamit pergi? Bahkan kami tidak berani menatap mata satu sama lain saat bicara karena kami takut ingatan meyakitkan itu terlintas lagi. Sudah dua tahun berlalu namun rasa sakit itu masih bisa kurasakan, dan aku tidak pernah sekali pun berhenti memikirkannya. Kadang aku berpikir bahwa hal terbodoh yang pernah kulakukan adalah berpisah dengannya.

                                                                                                xxxxx

"Maaf, Nona, aku tahu kau tidak bekerja di sini, namun apa kau tahu dimana aku bisa menemukan obat-obatan di sini?" tanya seorang pemuda berambut merah dengan senyum di wajahnya.

Ya, aku memang tahu semua yang ada di toko ini karena sudah setahun belakangan ini aku menjadi pelanggan toko ini. "Ya, tentu. Kau bisa menemukannya di lorong sebelah sana." jawabku menunjuk lorong paling ujung di toko ini.

Dia memberikan senyumnya kembali, "Terima kasih."

Aku balas tersenyum padanya. "Ya, sama-sama. Tidak perlu sungkan."

"Uhm… sebagai tanda terima kasih, maukah kau pergi bersamaku jika ada waktu? Ya, semacam… kencan? Makan malam, atau menonton film?" tanya pemuda itu dengan sedikit gugup. Kurasa sekarang wajahnya lebih merah daripada rambutnya.

"Kencan? Aku tidak tahu—errr…"

"Ron." ujarnya memperkenalkan namanya.

"Ya, Ron. Uhm, aku tidak tahu, Ron. mungkin kencan bukanlah ide yang bagus." Jawabku. Kulihat raut wajahnya berubah sedih. "Jangan salah paham, Ron. kau kelihatannya adalah lelaki yang baik. Aku hanya… trauma. Aku telah menjalani hubungan dengan seorang lelaki dan itu menyakitkan."

"Oh, maaf, err—"

"Hermione."

"Ya, maaf, Hermione. kapan itu terjadi?"

"Dua tahun yang lalu." jawabku. Pemuda bernama Ron itu menaikkan alisnya. "Aku tahu itu sudah lama terjadi, tapi…"

"Baiklah, aku mengerti, Hermione. dia pasti sangat spesial bagimu, bukan? Aku bisa mengerti bagaimana rasanya. Tapi jika kau terus menghabiskan hidupmu dengan masa lalu, kau akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa di masa depan." Ujarnya lalu pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya.

Ketika aku mendengarnya, aku merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan ketika pertama kali bertemu dengan Draco, hanya saja, kali ini lebih kuat. "Ucapanmu luar biasa, Ron. Err… tentang kencan yang kau tawarkan, kurasa aku akan menerimanya."

Ia tersenyum dan setelah itu ia mengantarku pulang ke rumah.

Sejak hari itu, Ron sering mengunjungiku. Dan ajaibnya, sejak ada Ron, aku tidak pernah memikirkan Draco lagi. Kami selalu pergi bersama setiap ada waktu luang. Dan suatu hari, Ron melamarku di sebuah bukit yang langitnya terdapat jutaan bintang. Ron memberiku dua buah replika bintang, satu berukuran kecil, dan satunya berukuran besar.

"Hermione, bersediakah kau menerimaku sebagai calon suamimu?" tanyanya waktu itu. "Jika kau menerimaku, berikan bintang yang besar padaku, tapi jika kau menolakku, berikan bintang yang kecil padaku."

Aku terdiam sejenak. Aku mencintainya, dengan cara yang berbeda tentunya. Ron satu-satunya lelaki yang dapat membuatku sembuh dari luka masa laluku dengan Draco. bodoh jika aku menolak lelaki sehebat dan sebaik Ron. Maka aku pun memberikan bintang yang berukuran besar kepadanya. "Aku bersedia, Ron."

Mendengar itu, ron lantas menarikku ke dalam pelukannya dan menciumku dengan lembut. Sebulan setelah itu kami pun menikah. Hari itu adalah hari terbaik dalam hidupku. Ron yang mengenakan tuxedo berwarna putih yang sangat kontras dengan warna rambutnya menungguku di depan altar untuk mengucapkan janji suci sehidup semati dalam ikatan cinta.

                                                                                                xxxxx

Hidup memang seperti roda yang berputar. Manusia tidak bisa selamanya berada dalam kebahagiaan. Dua tahun sudah pernikahanku dengan Ron, namun Tuhan malah meranggut kebahagiaanku dengannya. Tanpa kuketahui, Ron mengidap radang paru-paru akut.

Aku telah memohon pada Dokter yang ada agar berusaha menyembuhkan Ron dari penyakitnya itu, namun mereka mengatakan hanya keajaibanlah yang dapat menolongnya bertahan hidup. Sekecil apapun keajaiban itu, aku akan menunggunya. Aku akan melakukan apapun demi Ron.

"Ron, kumohon bertahanlah. Demi aku. Demi kita. kumohon, Ron." Air mata tak henti-hentinya membasahi wajahku. Aku merasakan perasaan takut yang memenuhi diriku. Tuhan seharusnya mengambilku juga jika Ia ingin mengambil Ron. Aku tidak ingin hidup tanpanya. Kami telah melewati banyak hal bersama. Ia adalah lelaki terhebat yang pernah kutemui dan ia memperlakukanku dengan sangat baik. "Kumohom, Ron, jangan lakukan ini padaku."

Ron membuka matanya perlahan, mengerjapkannya beberapa kali, dan menoleh kepadaku. "Mione. Aku mencintaimu, Hemione. Kau tahu seberapa besar aku mencintaimu, bukan?" bisiknya dengan lemah. Aku hanya sanggup menganggukkan kepalaku. Melihatnya seperti itu sungguh sangat menyakitkan. Aku menggerakkan bibirku namun tak ada kata-kata yang mampu keluar.

Itu adalah hal terakhir yang aku dengar darinya sebelum ia pergi untuk selamanya. Terkadang aku berpikir Tuhan begitu kejam kepadaku. Namun aku tahu Tuhan selalu punya maksud di balik setiap kejadian. Melepaskan seseorang yang tak kau harapkan kepergiannya memang selalu sulit. Aku telah mengetahui bahwa Ron bisa pergi kapan saja, namun aku tidak pernah siap untuk melihatnya pergi. Aku menangis sejadi-jadinya. Namun berapa banyak pun air mata yang kukeluarkan, kesedihan ini tidak pernah berkurang sedikit pun.

Aku mencoba untuk melepas kepergiannya dengan perasaan bahagia, namun itu terlalu sulit. Berbulan-bulan lamanya aku masih terpuruk karena kepergian suami yang sangat kucintai. Orang-orang berpikir aku jatuh ke dalam depresi yang sangat dalam sehingga aku tidak bisa menjadi diriku yang seperti dulu lagi. Ya, mungkin mereka benar. semuanya tidak akan sama lagi sejak kau kehilangan seseorang yang amat sangat kau cintai.

                                                                                                xxxxx

Setahun sudah sejak kematian Ron dan aku masih sering menangisinya seorang diri. Sepulangnya dari tempat makam Ron, aku mengunjungi toko tempat pertama kali aku dan Ron bertemu. Di tengah perjalanan aku mendenar suara yang sangat kukenal memanggilku. Aku mempercepat langkahku, berharap tidak akan bertemu dengannya. Namun tak lama kemudian orang itu menepuk pundakku.

"Hermione? Kau Hermione?" tanyanya memastikan. Aku pun membalikkan tubuhku agar bisa melihatnya. "Ternyata benar. Sudah mendengar tentang suamimu, aku turut menyesal. Apa kau baik-baik saja, Hermione?"

Sekali lagi, takdir mempermainkanku. Kenapa dia? Kenapa Draco Malfoy yang hadir kembali? Oh, Draco, kau datang di waktu dan keadaan yang salah. "Hai, Draco. Terima kasih. Aku baik-baik saja." Sebisa mungkin aku mengendalikan perasaanku.

"Hermione, aku tahu aku bukanlah orang yang ingin kau temui saat ini. Tapi, jika ada yang bisa kulakukan untukmu, tolong katakanlah." Ujarnya sungguh-sungguh.

"Tidak, Draco. aku sungguh baik-baik saja." Ya, aku berbohong. Aku tidak baik-baik saja, terlebih lagi setelah melihatnya sekarang ini.

Draco tersenyum dan perlahan memelukku dengan lembut. Dan entah mengapa tubuhku tidak menolaknya. Aku pun hanyut dalam pelukkan hangatnya. Rasanya masih sama seperti ketika kami sering berbagi pelukkan sewaktu di masa sekolah dulu. Baru kusadari, aku merindukan pelukkan ini. Aku merindukan Draco.

"Aku tahu kau mungkin membenciku, tapi aku tidak peduli. Aku ada di sini bersamamu, Hermione. Selalu. Kau tidak pernah benar-benar pergi dari pikiranku sejak hari itu, hari dimana kau mengakhiri hubungan kita, dan aku berdiam diri di bawah hujan selama sisa hari itu. Itu adalah hari terburuk dalam hidupku." Ujarnya setelah melepaskan pelukkannya.

"Kau yang membuatnya seperti itu, Draco." aku membalikkan tubuhku, hendak melanjutkan perjalananku ke toko tersebut.

"Aku tahu aku yang membuatnya seperti itu. Aku meyesal. Sangat. Aku telah berubah, Hermione."

Aku tetap melanjutkan perjalananku tanpa meoleh. Hati kecilku mengatakan aku ingin tetap di sana, bersama Draco. Namun otakku menolaknya. Sekuat mungkin aku menahan perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul. Perasaan yang aneh namun terasa tidak asing bagiku. Aku pernah merasakannya sebelum ini. Aku pernah merasakannya ketika pertama kali aku bertemu Draco.

"Aku mencintaimu! Aku telah berkata bahwa aku akan selalu mencintaimu. Kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku!" teriaknya sehingga menarik perhatian orang-orang yang melewati kami.

Aku berhenti. Kenapa percakapan ini jadi seperti ini? Ini tidak benar. tidak sekarang. Aku baru saja kehilangan suamiku. Kenapa lelaki ini harus datang kembali? Kenapa harus Draco?

"Draco! Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanyaku setelah menghampirinya kembali.

"Aku ingin kesempatan kedua."

"Apa kau pikir kau bisa melakukannya?" aku berkata sedikit kasar. "Aku telah kehilangan seseorang yang sangat berarti bagiku sebelum aku kehilangan suamiku. Dan aku tidak siap untuk merasakan sakit lagi." Sekali lagi, aku melangkah menjauhinya.

"Kumohon, Mione!" Teriaknya lagi.

Aku menoleh dan mendapati air mata di ujung pelupuk matanya, namun ia tidak membiarkannya jatuh.

"Satu saja kesempatan. Jika kali ini aku mengkhianatinya, aku akan pergi dari hidupmu selamanya. Kumohon."

"Aku tidak ingin tersakiti lagi, Draco." air mata jatuh begitu saja dari pelupuk mataku, aku tidak sanggup membendungnya lebih lama lagi.

"Aku janji tidak akan menyakitimu, Hermione. aku tidak akan meninggalkanmu dan membohongimu lagi jika kau memberiku kesempatan." Air mata yang sejak tadi ditahannya, sekarang jatuh sudah.

Aku terdiam. Air mata yang semakin deras jatuh begitu saja tanpa bisa kucegah lagi. Aku sangat ingin mempercayainya saat ini. Namun aku tidak siap menerima yang lebih buruk dari ini jika ia menyakitiku lagi.

"Ayolah, pemuda itu telah memohon padamu. Berilah dia satu kesempatan atau kau mungkin akan kehilangan sesuatu yang luar biasa." kata seorang pejalan kaki yang berada di dekat kami.

"Baiklah." Ujarku akhirnya, dan bisa kulihat wajah Draco sedikit berbinar mendengarnya. Ia menarikku kedlam pelukannya dan membawaku melayang-layang di udara. Dia memelukku begitu erat hingga rasanya sulit untuk bernapas.

"Aku mencintaimu." Dia menurunkanku dan meniumku dengan lembut. detik itu juga aku menyadari aku tidak pernah benar-benar berhenti mencintai pemuda ini, aku tidak pernah berhenti mencintai cinta pertamaku.

                                                                                                    xxxxx

10 tahun kemudian

"Rose, Scorpie, waktunya makan malam! Ayo kemari!" aku berteriak kepada dua anak yang sedang bermain di ruang tengah rumah kami. Aku selalu menyukai saat makan malam. Karena saat makan malam semua anggota keluargaku akan berkumpul dan berbincang satu sama lain. Aku mencintai keluargaku. Aku mencintai Draco dan kedua buah hati kami. Mereka sangat cerdas. Mereka mendapatkannya dari Draco. draco selalu menjadi pemuda yang cerdas.

"Baiklah, siapa yang ingin brokoli?" tanyanya kepada Rose dan Scorpius.

"Eww!" jawab mereka serempak. Mereka benci brokolo. Lagipula tidak ada yang kecil yang suka dengan sayuran itu.

Malam ini, aku dan Draco berbaring di atas ranjang kami. Kami berbincang tentang segala yang terjadi di masa lalu kami. Butuh waktu lama bagi kami untuk melepaskan segala emosi dan kesakitan yang pernah kami rasakan. Kami tidak pernah membicarakan tentang Ron. Draco telah mengerti betul bagaimana perasaanku terhadap Ron. Aku merindukannya. Aku masih belum dapat percaya bahwa Ron telah benar-benar pergi. Tapi aku bahagia bersama Draco, dan aku yakin Ron pasti akan bahagia juga untukku. Pada akhirnya, aku mendapatkan akhir yang bahagia bersama Draco.

"Sudah malam, sebaiknya kau tidur, Love. Selamat malam."

"Selamat malam, Draco." draco mengecup keningku dan aku pun terlelap dalam pelukkannya. Aku yakin akan mimpi indah malam ini.

                                                                                                     -F I N-